Walaupun begitu, saya sebagai muslim juga tidak akan melarang apalagi mencaci sahabat saya yang beragama lain bila mereka ingin makan babi. Itu hak mereka sesuai dengan keyakinan yang mereka anut. Agama mereka tidak melarang mereka untuk makan babi dan itu yang mereka yakini. Lalu apa saya akan memaksa ia untuk tidak makan babi dengan membawa dalil agama saya?
Itulah orang beragama. Hari ini banyak orang-orang yang “over-dosis agama”. Saking “taatnya” beragama ia melampaui batas agama dan agama orang lain. Apa yang ia anggap haram bagi agamanya harus ia terapkan bagi penganut agama lain. Ia seakan lupa, bahwa orang lain tidak meyakini apa yang ia yakini. Sehingga amat lucu jika ia memaksakan apa yang ia yakini pada orang lain yang tidak meyakininya.
Tuhan saja berfirman “La ikraha fid din” >> Tiada paksaaan dalam agama. Dia juga berfirman “La a'budu ma ta'budun wa la antum 'abiduna ma a'bud” >> Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah dan kamu juga tidak menyembah apa yang aku sembah. Di akhiri dengan kalimat “Lakum dinukum wa liyadin” >> Untukmu agamamu dan untukku agamaku.
Tuhan saja tidak pernah memaksa (bahkan mengharamkan pemaksaan) atas hal yang berkaitan dengan KETUHANAN yang merupakan inti Aqidah & Tauhid, apalagi cuma soal makanan.
Saking over-dosisnya agama, mereka bahkan lebih bersemangat daripada Tuhan soal “mengislamkan” orang lain dan menerapkan syariat pada orang lain. Tuhan sendiri sudah berfirman pada Nabi-Nya, “Afa-anta tukrihunnaasa hatta yakuunu mu'minin” >> Apakah engkau hendak memaksa seluruh manusia agar jadi orang beriman semuanya?
Sudahlah, kalau engkau yakin dengan semboyan yang telah disepakati "Untukmu agamamu dan untukku agamaku", engkau tidak akan galau dengan apa yang mereka makan. Biarkan mereka dengan "syariat" mereka. Biarkan mereka makan apa yang dalam keyakinan mereka tidak haram untuk dimakan. Kau hanya diminta pertanggungjawaban atas apa yang kau makan, bukan yang orang lain makan, apalagi yang umat agama lain makan.
Sebagai muslim saya masih merasa waras. Saya tahu mereka buka restoran untuk sesama mereka, bukan untuk saya. Mereka tidak pernah memaksa saya untuk makan babi di restoran mereka, karena mereka pun pasti tahu keyakinan saya mengharamkannya. Sebagaimana warasnya saya tidak memaksa mereka menutup restoran mereka, karena saya tahu keyakinan mereka tidak mengharamkannya.
Saya pikir sudah bagus karena mereka telah jujur menulis "RESTORAN BABI PANGGANG KARO", Itu artinya mereka ingin berkata 'STOP MUSLIM JANGAN MAKAN DISINI'. Lah coba mereka hanya menulis "Restoran Masakan Khas Karo", dan tahu-tahu isinya babi. Anda malah akan kelabakan kan?
Babi itu haram, tapi bersikap intoleran dan memaksakan kehendak dengan membawa dalih agama juga haram kan? Nah sekarang tinggal pikir, apakah anda ingin menjadi muslim yang seperti saya? atau yang over-dosis seperti mereka?
Sumber : Facebook

0 Response to "FPI Wajib Baca Ini Terkait BABI PANGGANG KARO"
Post a Comment